Rabu, 07 Maret 2012

SEJARAH HIP HOP INDONESIA

SEJARAH HIP HOP INDONESIA

Kini perkembangan music di indonesia begitu pesat. Tapi music hiphop juga masih tetap terdengar walaupun industri musik indonesia kini begitu bersaing. bermula dari IWA K yang terinspirasi dari Almarhum Farid Hardja & Benyamin.S dengan lagunya yang berrima dan di baca sedikit cepat lalu IWA K memperkenalkan hiphop di indonesia yang kemudian disusul oleh DENADA namun kini DENADA sudah beralih ke dangdut, walaupun demikian perjalanan hiphop di indonesia masih belum berhenti. Munculah SINDICAT yang lagunya menjadi soundtrack serial sun go kong di televisi. Belanjut ke tahun berikutnya lahirlah NEO yang terkenal dengan singgelnya BORJU. Kemudian group-group music hiphop mulai semakin berkembang mulai dari SAYKOJI yang dulu bukan apa-apa namun kini karyanya menjadi top di tahun 2009-2010, dan masih banyak lagi raper2 yang mewarnai tanah air dari tahun ke tahun.


Tokoh Hip Hop Indonesia

 FARID HARDJA

MULANYA ia muncul berciri khas kepala botak dengan rambut lumayan tebal di sisi atas, kanan, dan kirinya. Kacamata yang dikenakannya diusahakan semirip mungkin dengan Elton John yang sedang jaya-jayanya di perjalanan dekade 1960-an itu. Beberapa tahun kemudian, penampilannya berubah, rambutnya kini menggumpal alias kribo. Metamoforsa itu terus berlanjut hingga akhirnya ia identik sebagai penyanyi tambun dengan pakaian seperti jubah besar bermotif warna-warni, persis seperti beragam jenis musik yang dijajalnya: dari rock n roll, jazz, balada, pop, disko, reggae, hingga dangdut.
Dalam kondisi seperti itu, Farid Hardja keluar dari sarangnya, memulai karirnya sebagai pelaku musik dengan lebih profesional pada kisaran 1966 itu. Di Bandung, Farid bergabung dengan grup De Zieger yang mengusung aliran rock n roll dengan acuan The Rolling Stones. Lama memersiapkan diri untuk berkembang di kota kembang, musisi subur yang kala itu masih berambut kribo tersebut mantap hijrah ke Jakarta. Di ibukota, Farid menjajal kemampuan musikalnya bersama beberapa band rock, sebut saja Cockpit dan Brotherhood pada 1974 serta Brown Bear pada 1975.
Hanya sebentar mengadu nasib di Jakarta, pada 1976 Farid memutuskan pulang kampung ke Sukabumi, tempat di mana ia dilahirkan pada 1950. Namun ia hanya tak diam. Farid bersiasat membentuk kelompok yang dominan memainkan musik rock and roll, R & B, serta country. Nama grup ini bercorak lokal, sederhana dan mudah diingat serta jauh tren band-band lokal kala itu yang getol memakai nama asing. Bani Adam, begitulah Farid memberi nama kelompok barunya itu. “Karena kita semua adalah umat Nabi Adam. Sebagai manusia, kita harus paham asal usul kita,” demikian alasan Farid.

BENYAMIN SUEB

Bukan hanya legendaris gambang kromong tapi juga bapak rap Indonesia.
SUATU hari, Ben sangat ingin bertemu Bing Slamet, artis pujaannya. Ben ingin lagu ciptaannya dinyanyikan Bing. Ben putar otak. Akhirnya dia dapat akal: lewat Ateng Ben dikenalkan pada Bing. Ben lalu menemui Bing di studionya, dan menawarkan lagunya. “Ini Bang lagunya,” kata Ben.
Bing membaca sekilas, moncoret-coret sedikit dan mengubah syairnya. Ben tampak puas. Dan benar, setelah lagu berjudul Nonton Bioskop itu dirilis –yang delapan tahun sebelumnya ditolak penyanyi Fenti Effendi –langsung meledak. Ben senang bukan kepalang. Dia pun ketagihan menulis lagu. Tapi, atas saran Bing Slamet, sebaiknya Ben menyanyikan lagu-lagunya sendiri. Anjuran Bin terbukti manjur. “Titik awal karier seni profesional Ben bermula dari band kecil bernama Melody Boys,” tulis Ludhy Cahyana dalam biografi Benyamin, Muka Kampung Rezeki Kota.
Bersama Rachman A, Rahmat Kartolo, Pepen Effendi, Imam Kartolo, Saidi, Zainin, Suparlan, Timbul, dan Yoyok Jauhari, Ben terus ngider dari satu klab ke klab lain, satu pentas ke pentas lainnya untuk mengejar popularitas. Ketika peruntungan mulai mendekat, pemerintahan Sukarno melarang segala yang berbau Barat. Daripada disetip peraturan, Melody Boys terpaksa berganti nama menjadi Melodi Ria.
Di tengah-tengah perjuangan bermusik itu, Ben juga nyambi ngelawak agar asap dapurnya tetap mengepul. Ben pelawak alami. Darah kocak sudah mengalir deras dalam dirinya sejak kecil. Kedekatannya dengan Letnan Dading dari Kodam Jaya membawanya begabung dalam kelompok seni Kodam Jaya. Bersama Edi Gombloh dan Dul Kamdi, Ben kemudian membentuk grup lawak Trio Kambing. Mereka lalu tur ke berbagai daerah sesuai permintaan.
Ben pun lebih terkenal sebagai pelawak ketimbang penyanyi. Suatu hari di bulan Mei 1970, ia sempat ditolak menyanyi dalam sebuah show di Cirebon, “karena nama Benyamin belum terkenal, bahkan pernah ditolak menyanyi karena dianggap takut merusak show-nya Frans Daromes,” tulis Ludhy. Tapi akhirnya Ben boleh menyanyi setelah melobi kordinator pertunjukan dengan mengatakan bahwa dirinya sudah rekaman lagu Om Senang. Saat itu lagu bertema senada, Tante Girang dan Tante Sun.
SEPULANG dari Cirebon, peruntungan Ben terus membaik. Tak lama kemudian, pada 1970, Ben mulai solo karier di dunia tarik suara. Si Jampang menjadi debutnya. Dia terus mempertahankan ciri khasnya: lagu-lagunya bertema humor dan nada yang enak di telinga, tapi sedikit mengabaikan susunan kata. Dengan solo karir dia juga bebas bereksperimen. “Dia terbilang sukses meramu spontanitas Betawi dengan celoteh, yang terkadang menggerutu dan sering ngaco,” tulis Ludhy.
Buntutnya gelar bapak rap Indonesia pun dialamatkan padanya. “Suatu ketika,” kenang Zainin, “Ben iseng memainkan gambang kromong. Tiba-tiba yang lain (teman Ben-Red.) nyeletuk, ‘Kamu kan orang Betawi, kenapa tidak menyanyikan lagu Betawi?” Mulai saat itulah Ben melirik dan serius menekuni gambang kromong. Namanya pun kian meroket.
Sayang, Ben merasa jemu bersolo. Dia kembali membuat terobosan, berduet. Tapi, beberapa kali ganti pasangan, mulai Rossy hingga Rita Zahara, “prestasi” Ben kurang menggembirakan. Sampai akhirnya dia menemukan penyanyi cilik Ida Royani, nama Ben di pentas musik nasional baru benar-benar “menggelegar”.
Cing Kaji, kakak Ben, berjasa menduetkan mereka berdua. Awalnya Ida tidak tertarik. “Bayangkan, penampilan Ida yang modis dan funky, harus menyanyi bareng Benyamin yang penampilannya, ‘sudah item, dekil lagi,’” ujar Ida sebagaimana ditulis Ludhy.
Ida waktu itu sudah menjadi penyanyi top remaja. Tapi, Ida terus dipengaruhi ibunya. “Sudah, kamu coba saja dulu,” begitu ibunya menasihati Ida. Ida akhirnya menerima tawaran duet itu. Meski kaset-kaset mereka laku keras, awalnya Ida merasa berat menjalani duet itu. Teman-temannya mencap dia kampungan. Akibatnya, dia kerap menumpahkan perasaan kesalnya ke Ben. Ben santai saja menanggapinya, “Biarin Da, gue dikatain muka kampungan, tapi rezeki kita, rezeki kota.”
Duet itu terus menanjak dan kian bersinar. Sampai-sampai penyanyi top saat itu, Lilis Suryani, merasa tersaingi. Boleh jadi salah satu penyebabnya adalah kemampuan Ida nimpalin celetukan-celetukan Ben. “Kita tidak ada persiapan sama sekali. Pokoknya spontan saja,” ujar Ida.
TAK berbeda jauh dari dunia tarik suara, di dunia layar lebar pun Ben sukses tak tanggung-tanggung. Meski awalnya enggan nyemplung ke dunia itu, Ben akhirnya tak kuasa menahan godaan bermain film. Bahkan, di dunia yang satu ini dia rela melanggar nasihat emaknya, sebab emaknya tak suka dengan gaya hidup para selebritas film. Ben mengalami dilema awalnya, tapi dia tetap berkuat hati untuk berjuang di dunia layar lebar. Abang angkatnya, Adung Saleh, turut mendukung pula. “Udahlah Min, jangan didenger emak, sengsara kita,” begitu nasihat Saleh kepada Benyamin.
Ben nurut nasehat abang tirinya. Debutnya dimulai saat membintangi Honey Money and Jakarta Fair (1970), yang disutradarai Misbach Djusa Biran. Kemudian tak lama setelah itu, melalui film besutan sutradara Turino Djunaidy, Intan Berduri, Ben memenangkan Piala Citra (1973) untuk kategori pemeran pria terbaik. Melalui film itu, menurut Gombloh, “langkah Benyamin dalam dunia seni seperti langsung langkah kanan, kayaknya cepat sekali dan dengan filmnya yang susul-menyusul, seperti Biang Kerok, Biang Kerok Beruntung, dan lain-lain.” Saking larisnya, Ben sempat dikontrak dua perusahaan film sekaligus. Tambah satu profesi, kesibukan Ben pun luar biasa. Mulai saat itu pula Ben menjalani tiga profesi sekaligus: menyanyi, melawak, dan main film.
Film-film Ben boleh dikata tak jauh dari penggambaran pengalaman pribadinya. Perkelahian, kejailan, humor dan lain sebagainya, hampir selalu mewarnai sebagian besar film-film yang Ben bintangi. Judul-judul film itu pun banyak yang memiliki kaitan dengan masa lalunya, semisal Biang Kerok atau Tarzan Kota. Tapi, justru dengan kesederhanaan itulah film-film Ben memiliki corak yang berbeda dari film-film pada umumnya kala itu. Banyak orang mencari-cari film-film Ben, bahkan hingga saat ini. Dengan film-film yang menggambarkan keseharian masyarakat itulah nama Ben makin melambung dan menjadi ikon etnis Betawi.
Kekuatan film-film Ben terutama terletak pada karakter Betawinya. Asal goblek, kocak, jail, tempramen, dan lain sebagainya, hampir selalu melekat pada tokoh yang Ben perankan. Dan Ben sangat gape melakoninya. Itulah yang menyebabkan kekuatan karakter seorang tokoh muncul, yang tanpa disadari turut membentuk pandangan pemirsanya. Improvisasi menjadi salah satu andalan Ben dalam berakting. “Betul-betul rajanya dalam berimprovisasi,” kata Putu Wijaya.
Selain itu, spontanitas Ben luar biasa. Tidak ada duanya. Kreativitasnya sangat mengagumkan. “Idenya selalu gila dan bagus. Meski naluri penghiburnya lebih bagus dari sutradara, dia tak pernah menganggap remeh. Sebaliknya, dia sangat menghargai dan tidak mau melangkahi wewenang sutradara. Itulah kelebihan yang tak dimiliki artis lainnya,” tulis Ludhy

IWA K

Iwa Kusuma (lahir di Bandung, Jawa Barat, 25 Oktober 1970; umur 39 tahun) atau lebih dikenal dengan nama panggungnya Iwa-K adalah seorang artis rap (rapper) dan juga seorang pelopor musik rap Indonesia.
Di Indonesia, nama Iwa sudah sangat menyatu dengan musik rap. Pada era 80-an, saat anak muda dilanda musik rock, Iwa sudah mulai bergelut dengan musik rap, sebuah genre musik yang lebih menekankan pada teknik berceloteh, dibanding instrumen musik. Kecintaannya pada musik asal Amerika Serikat ini bermula dari kesenangannya bermain breakdance. Iwa sangat terpikat oleh gaya bertuturnya yang begitu “groovy”, dinamis dan jujur sebagai medianya untuk berkreasi.
Iwa membentuk grup rap untuk pertama kalinya saat ia duduk di bangku kelas 1 SMA bersama teman-temannya, Sampai pada tahun 1989 akhirnya ia bersua dengan personil Guest Band, antara lain Macan Riupasa, Tori Sudarsono, Yudis Dwi Korana, Satya “N’ti” M, dan Gustav. Di sinilah ia memperoleh kesempatan untuk unjuk gigi di studio rekaman dan mulai ngerap bersama Guest Band. Dia juga berkolaborasi dengan dengan Melly Manuhutu dalam album Beatify (1991) yang dirilis di Jepang, hingga solo albumnya yang terkini Iwa masih mempercayakan Guest Music Production dalam memproduksi musiknya. Iwa pernah mengambil kuliah di FISIP jurusan Hubungan Internasional di Universitas Parahyangan, Bandung.
Tahun 1993 Iwa K mengukuhkan dirinya sebagai rapper lewat debut albumnya Kuingin Kembali. Setahun kemudian, penghargaan berupa BASF Award sudah di tangannya lewat album kedua yang bertajuk Topeng (1994). Album ketiga Kramotak! (1996) dan keempat Mesin Imajinasi (1998) meraih sukses yang sama.

DENADA

Denada Elizabeth Anggia Ayu Tambunan biasa dipanggil Denada (lahir di Jakarta, 19 Desember 1978; umur 30 tahun) adalah penyanyi dan aktris Indonesia. Putri sulung pasangan Emilia Contessa, penyanyi yang terkenal pada tahun 1970-an, dan Rio Tambunan ini awalnya penyanyi pop yang kemudian mengambil spesialisasi rap, namun belakangan terjun ke dangdut.
Denada dikenal sebagai rapper papan atas Indonesia pada awal 1990-an. Ia kemudian meninggalkan karir sebagai rapper untuk melanjutkan pendidikan di Australia. Sekembalinya dari Australia, Denada mencoba kembali ke dunia musik namun berpindah jalur ke aliran dangdut. Lagu-lagu dangdutnya sukses dan Denada bahkan masuk sebagai unggulan dalam beberapa penghargaan musik, di antaranya Anugerah Musik Indonesia dan Penghargaan MTV Indonesia pada tahun 2005. Selain itu, wanita yang pernah menempuh pendidikan di Australia ini juga menggeluti dunia akting di sinetron. Beberapa sinetron yang pernah dibintanginya di antaranya “Hari-hari Mau”, “Nyari Bini”, “Rahasia Ilahi”, dan “Cahaya Surga”.

MARZUKI MOHAMMAD a.k.a Kill The DJ
Mohammad Marzuki, pria kelahiran Klaten, 21 Februari 1975, bisa dikatakan sebagai inspirator bagi musisi hip-hop Indonesia, khususnya di Yogyakarta. Tiga tahun sebelum Jogja Hip Hop Foundation berdiri, dia sudah merambah luar negeri.
Bersama Jogja Hip Hop Foundation, tahun lalu mereka tampil di Singapura. Tahun 2010, rencananya mereka bakal main di New York dan San Fransisco, Amerika Serikat.
Undangan yang datang dari Singapura dan Amerika Serikat itu menjadi salah satu ukuran bahwa musisi hip-hop jawa diperhitungkan. Meskipun, menurut Juki atau Zuki, panggilan bagi Mohammad Marzuki, untuk mencapainya diperlukan proses panjang dan kemampuan negosiasi yang mumpuni.
Tahun 2003, Juki mendirikan Jogja Hip Hop Foundation. Wadah yang diistilahkan sebagai ”ruang tanpa tembok” itu menjadi kendaraannya. Dari Jogja Hip Hop Foundation tersebut, setidaknya telah ditetaskan dua album bertitel Poetry Battle pada tahun 2007 dan 2008.
Album kompilasi sejumlah musisi hip-hop itu dicetak masing-masing ribuan keping CD dan ludes dalam hitungan bulan. Potensi hip-hop kemudian semakin terlihat. Maka, tidak mengherankan jika publik lalu menanti-nanti dirilisnya Poetry Battle yang ketiga. Namun, harapan publik itu tampaknya tidak bakal terwujud.
”Aku enggak akan membuat Poetry Battle lagi kok. Aku ingin membuat yang baru saja dan tidak akan aku kasih judul Poetry Battle,” kata anak dari  H Soepartijo dan Siti Sapariyah ini.
Juki rupanya ingin lebih dulu mewujudkan impiannya yang lain. Dia tengah menggarap dan akan segera meluncurkan film dokumenter bertajuk Hip Hop Diningrat. Ini merupakan sebuah film yang memotret perjalanan hip-hop dengan aliran jawa.
Bagaimanapun Juki telah memberi jalan pada komunitas hip hop Yogyakarta untuk berkiprah. Lewat Poetry Battle dia telah memberikan ”kunci” bagi anak- anak hip-hop untuk bertemu siapa saja di luar jalur musik mainstream. Ia pun aktif membantu anak-anak hip-hop kala mereka membuat rekaman album.
Di samping itu, dia juga bakal membuat album rekaman yang lain. Kali ini Juki berkolaborasi dengan Soimah, pesinden yang namanya meroket sampai Jakarta. Album itu berjudul Semiotika Pantura.
Tidak hanya bergerak dalam dunia musik, Juki pun berusaha mendapatkan penghasilan dari usaha distro Whatever Shop di Yogyakarta. Sebab, sebagian dari pendapatan toko itu menjadi ”tiket” bagi sebagian anak-anak di pinggir Kali Code, Yogyakarta, untuk tetap bersekolah.
Sebenarnya hip-hop bukanlah aliran musik pertama yang dipilih Juki. Lelaki yang tidak lulus Madrasah Aliyah Negeri 1 Yogyakarta itu sebelumnya banyak berteman dengan para seniman jalanan. Lewat cara semacam magang itulah dia, antara lain, belajar seni grafis dan teater.
Di dunia hip-hop, Juki dikenal dengan nama panggung Kill The DJ. Nama itu baru dipakainya tahun 2001. Alasannya, ketika itu dia melihat sebagian kaum muda mendewakan rave party (pesta semalam suntuk dengan elektronik musik yang dimainkan para DJ).
”Mereka terlalu menyanjung DJ-nya,” kata Juki yang lalu ingin ”menjungkirkan” anggapan tersebut lewat namanya, Kill The DJ.
Terkadang dia menggunakan nama Chebolang, terutama untuk garapan desain grafisnya. Hal ini merupakan sosok kontroversial dalam kitab berbahasa Jawa, Serat Centhini, yang selalu gelisah mencari jati diri. Juki tampaknya merasa kegelisahan seperti dialami Chebolang juga menimpa dirinya.
Juki mencontohkan, saat mendengar rekaman telepon Anggodo Widjojo dengan beberapa orang yang diputar dalam sidang Mahkamah Konstitusi, dia merasa harus menyalurkan kegelisahannya. Maka muncullah lagu ”Cecak Nguntal Boyo”, yang dia nyanyikan saat ikut berunjuk rasa di Jakarta.
Lagu itu lalu dia daftarkan menjadi ring back tone (RBT). Dari lima provider yang tawarinya, dua di antaranya menerima ”Cecak Nguntal Boyo” untuk RBT dan hasilnya menjadi dana kampanye antikorupsi.
Meski hip-hop jawa relatif tak mendatangkan keuntungan materi besar, Juki tetap menekuninya. Untuk mempertahankan keberadaan hip-hop jawa, 40 kitab berbahasa Jawa koleksinya menjadi sumber inspirasi bagi Juki yang tak ada habisnya.
”Menghidupkan bahasa ibu (bahasa Jawa) itu bentuk pertanggungjawaban. Kalau puisi jawa cuma tersimpan dalam lembaran kitab, dia akan berjarak dengan publik. Saya ingin menjadikannya sebagai milik publik,” kata Juki yang tampil dengan hip-hop jawa dalam Urbanfest 2007 di Ancol, Jakarta.
Juki bercerita, dia tertarik pada kitab berbahasa Jawa justru ketika berada di Perancis untuk mendalami musik elektronik pada 2000.
Mungkin karena saya berada di luar negeri, jadi ada jarak dengan tanah kelahiran maka bahasa dan budaya Jawa menjadi hal penting. Saya malu, ternyata saya tidak tahu apa-apa tentang budaya dan bahasa ibu sendiri,” ujar pria yang dibesarkan di lingkungan pesantren karena sang ayah seorang ustadz.
Dia semakin merasa prihatin ketika mengetahui bahwa bahasa Jawa termasuk yang paling tidak diminati kaum muda. Kondisi ini yang membuat Juki berupaya menjadi ”jembatan” antara kaum muda dengan puisi jawa. Dia menggunakan hip-hop sebagai medianya.
Tidak hanya hip-hop dan distro sebagai fashion kaum muda sebagai pendukung yang dia tekuni, Juki juga berusaha membangkitkan kreativitas kaum muda lewat berbagai festival.
Di Yogyakarta, bekerja sama dengan perupa Jompet dan beberapa seniman lain, dia membentuk ”Performance Fucktory” pada tahun 1990-an. Ini merupakan kegiatan yang menampilkan seni multimedia dengan mengelaborasi panggung musik elektronik, video, dan gerak tubuh.
Lewat ”Performace Fucktory” tersebut, Juki dan kawan-kawan sering kali menggelar pertunjukan seni multimedia di berbagai tempat, baik di Yogyakarta maupun Bandung dan Jakarta.
Selain itu, Juki juga menjadi ”motor” kegiatan ”Parkinsound”, yang diikuti rata-rata puluhan band, dengan pengunjung sekitar 4.000 orang. Ini merupakan festival musik elektronik yang berlangsung di Yogyakarta setiap tahun, mulai 1998 sampai 2004.

 ^_^ Semoga Bermanfaat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar